Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2004

RELEASING > Jarak hati kita ...

Jarak hati kita.. Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya: "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?" Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab: "Karena saat seperti itu ia telahkehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak." "Tapi..." sang guru balik bertanya,"lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?" Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata:"Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak." Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka me

LETTER > Letters from a friend's

Sebuah surat yang menarik untuk bahan renungan dan pencerahan.. -cF- Materi yang saya coba bahas kali ini adalah Omnipotensi. Kata omnipotensi [omnipotent] sendiri kalau kita lihat di kamus artinya adalah mahakuasa atau penuh kekuasaan. Dan memang begitulah adanya ... Omnipotensi berada pada urutan teratas dari 10 lapisan pencerahan umat manusia, yaitu kekuasaan penuh dan tunggal yang hanya dimiliki oleh Tuhan. Akan tetapi pada saat yang sama unsurNYA itu sendiri sebenarnya juga sudah built-up didalam diri kita masing-masing, dan dengan unsur itu pula kita bisa melakukan close contact dengan The Almighty untuk kemudian terlibat dengan “melihat, merasakan, merenungi, meresapi, menerima, melaksanakan, serta mewujudkan” blue print yang memang selalu menjadi hak prerogatifNYA. Lalu, gimana caranya untuk bisa get into HIM? Menjalani kehidupan beragama dengan baik dan benar merupakan salah satu entry point yang bisa dengan – cukup - mudah dilakukan untuk bisa “menemui”

LETTER > Letters from a friend's

Sebuah surat yang menarik untuk bahan renungan dan pencerahan.. -cF- Pokok pikiran ini sempat menjadi topik kontroversial ketika saya sampaikan di sebuah forum ramah-tamah seusai acara lebaran di KBRI. Dalam bentuknya sebagai artikel, juga 'tidak direkomendasi' untuk dimuat Kompas, sebelum dilakukan edit seperlunya. Saya menolak untuk mengedit, tetapi akan mengirimkannya kembali ke Kompas di edisi Lebaran tahun depan, tetap dgn judul yg sama persis "Kita Tidak Diwajibkan Saling Memaafkan". Berikut adalah inti pemikiran yg ingin saya sharing. 1) Sejauh yg saya pelajari dari kitab suci berbagai agama, tidak pernah saya temukan adanya anjuran untuk saling memaafkan. Yang ada adalah anjuran untuk "memaafkan". Tanpa ada tambahan kata "saling". 2) Kita dianjurkan untuk memaafkan, tanpa perlu peduli apakah yg kita maafkan akan memaafkan kita atau tidak. Kalo setiap indidu bersedia 'memaafkan', maka kondisi "saling memaaf

POETRY > Eternal Life

Eternal Life Humans: O God, we want to live forever. God: Spirit will from body sever. Humans: O God, we want ouserlves tostay. God: Evil parts will be washed away. Humans: O God, what will then remain? God: All that is good you willretain. Humans: And after we are purified... God: In the highest heaven you mayabide. Humans: Is that the end to which we go? God: Then return to earth , tofurther grow.... Until yourself you bringto me.From this cycles you´ll not be free. Elsa M. Glover

POETRY > Spiritual Growth

...Spiritual Growth... CHOICES One evolves by making choices. Thus, to make them is a right We must not deny to others So they can travel toward the LIGHT. Elsa M. Glover ELECCIONES Uno evoluciona tomando decisiones. Por eso, tomarlas es un derecho Que no se puede a nadie negar Para que puedan hacia la LUZ viajar. - Versión de Jorge Rey

POETRY > Spiritual Growth

...Spiritual Growth... GROWTH There is a tree It always reaches up Always, Always, Always! Does it have its inner image to growth That it is trying to fulfill That daily it moves toward Imperceptibily Invisibly Until one day we can see yes, it has grown It is reaching its dream We are like that tree VERSION LIBRE por Jorge Rey Hay un árbol Que siempre crece Siempre, Siempre, Siempre! El tiene su interna Imagen de crecimiento Que se esfuerza por conseguir. Hacia ese fin se dirige cada día Imperceptiblemente Invisiblemente Hasta que un dia podemos ver Si, que ha crecido Que ha logrado su sueño. Nosotros somos como ese árbol.

POETRY > Cosmic Consciousness

...Connections... Cosmic Consciousness One universal body contains all matter. One universal nerve feels all pains. One universal mind contains all wisdom. One universal spirit fills all planes In the universal body All parts working together are needed. Those in touch with Cosmic Consciousness Know all viewpoints must be heeded. In the universal feeling The pain of one is for all a fact. Those in touch with Cosmic Consciousness By compassion are led to act. In the universal mind Is the Cosmic Plan. Those in touch with Cosmic Consciousness Know what´s good for beast and man. In the universal spirit Is all in earth or heaven. Those in touch with Cosmic Consciousness Know from It no one is riven. When all gain Cosmic Consciousness When all parts know the Whole Then all will be united Into one harmonious whole

POEMS > Bui

Hidup di bui bagaikan burung Bangun pagi makan nasi jagung Tidur di ubin pikiran bingung Apa daya badanku terkurung Terompet pagi harus bangun Makan diantri nasinya jagung Mau merokok rokoknya puntung Mau mandi tidak ada sabun

LIFE > Empat Istri

Empat Istri Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini. Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain. Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapan pun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit. Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat da

RELEASING > Sudahlah, Maafkan Saja !

Sudahlah, Maafkan Saja ! Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ''Hati-hati, banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!'' Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita. Anehnya, kita sering -- bahkan dengan sengaja -- memasukkan ''makanan-makanan beracun'' ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain! Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahay

STORY > Mengukur Ketinggian dengan menggunakan Barometer

Mengukur Ketinggian dengan menggunakan Barometer (True Story) Cerita berikut berkisar sekitar salah satu pertanyaan dalam ujian Fisika di Universitas Copenhagen: "Jelaskan bagaimana menetapkan tinggi suatu bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah barometer." Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah suatu tali panjang pada leher barometer, lalu turunkan barometer dari atap pencakar langit sampai menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan sama dengan tinggi pencakar langit." Jawaban yang luar biasa orisinilnya ini membuat pemeriksa ujiannya begitu geram sehingga akibatnya sang mahasiswa langsung tidak diluluskan. Si mahasiswa naik banding atas dasar bahwa jawabannya tidak bisa disangka kebenarannya, sehingga universitas menunjuk seorang arbiter yang independen untuk memutuskan kasusnya. Arbiter menyatakan bahwa jawabannya memang betul2 benar, hanya saja tidak memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika. Un